2.1 Kondisi Desa
2.1.1. Sejarah Desa
Sekitar Abad 19, Menurut sesepuh desa, konon katanya asal usul nama Desa Gempoltukmloko adalah berasal dari seorang raja yang berasal dari tanah Malaka berkelana untuk menyebarkan agama islam diwilayah Jawa bagian Timut, yang kemudian dia beristirahat dibawah pohon Gempol.
Raja tersebut terkenal santun dan mempunyai kelebihan dalam bidang pertabipan, sehingga banyak orang disetitar meminta pertolongan ke beliau. Dan lama kelamaan seorang raja tadi menetap disebuah perkampungan tersebut dan membuat nama itu perkampungan itu sebagai Desa Gempoltukmloko yang selanjutnya dijadikan sebagai panutan orang dikampung tersebut, yang kemudian sekarang disebut kepala Desa.
Adapun kepala desa yang pernah menjabat hingga sekarang adalah sebagai beriikut:
- Sawur : (tahun 1940 s.d 1989),
- H. Sulaiman Tohir : (tahun 1989 s.d 1999),
- H. Mustakim : (tahun 1999 s.d 2007),
- Muskan : (tahun 2007 s.d 2014),
- Daim : (tahun 2014 s.d sekarang).
2.1.2 Demografi
2.1.2.1 Kondisi Geografi Desa
Secara geografis Desa Gempoltukmloko terletak pada posisi 6°51’54”-7°23’6” Lintang Selatan dan 112°4’41”-112°33’12′ Bujur Timur. Topografi ketinggian desa ini adalah berupa daratan sedang yaitu sekitar 12 m di atas permukaan air laut. Berdasarkan data BPS kabupaten Lamongan tahun 2004, selama tahun 2004 curah hujan di Desa Gempoltukmloko rata-rata mencapai 1200 mm. Curah hujan terbanyak terjadi pada bulan Maret hingga mencapai 1500 mm yang merupakan curah hujan tertinggi selama kurun waktu 2000-2008.
Secara administratif, Desa Gempoltukmloko terletak di wilayah Kecamatan Sarirejo Kabupaten Lamongan dengan posisi dibatasi oleh wilayah desa-desa tetangga. Di sebelah Utara berbatasan dengan Desa Sumberjo Kecamatan Sarirejo Kabupaten Lamongan. Di sebelah Barat berbatasan dengan Desa Dermolemahbang Kecamatan Sarirejo Kabupaten Lamongan Di sisi Selatan berbatasan dengan Desa Ngasin Kecamatan Balongpanggang Kabupaten Gresik, sedangkan di sisi Timur berbatasan dengan Desa Sarirejo Kecamatan Sarirejo Kabupaten Lamongan.
Jarak tempuh Desa Gempoltukmloko ke ibu kota kecamatan adalah 0.5 km, yang dapat ditempuh dengan waktu sekitar 10 menit. Sedangkan jarak tempuh ke ibu kota kabupaten adalah 15 km, yang dapat ditempuh dengan waktu sekitar 1 jam.
2.1.2.2 Kependudukan.
Berdasarkan data Administrasi Pemerintahan Desa tahun 2010, jumlah penduduk Desa Gempoltukmloko adalah terdiri dari 457 KK, dengan jumlah total 1.967 jiwa, dengan rincian 980 laki-laki dan 987 perempuan sebagaimana tertera dalam Tabel 1.
Tabel 1
Jumlah Penduduk Berdasarkan Usia
|
No
|
Usia
|
Laki-laki
|
perempuan
|
Jumlah
|
Prosentase
|
|
1
|
0-4
|
66
|
79
|
145 orang
|
7.4 %
|
|
2
|
5-9
|
76
|
55
|
131 orang
|
6.7 %
|
|
3
|
10-14
|
62
|
73
|
135 orang
|
6.9 %
|
|
4
|
15-19
|
59
|
74
|
133 orang
|
6.8 %
|
|
5
|
20-24
|
53
|
52
|
105 orang
|
5.3 %
|
|
6
|
25-29
|
77
|
79
|
156 orang
|
8.0 %
|
|
7
|
30-34
|
69
|
82
|
151 orang
|
7.7 %
|
|
8
|
35-39
|
74
|
65
|
139 orang
|
7.1 %
|
|
9
|
40-44
|
68
|
73
|
142 orang
|
7.2 %
|
|
10
|
45-49
|
98
|
83
|
181 orang
|
9.2 %
|
|
11
|
50-54
|
102
|
103
|
205 orang
|
10.4 %
|
|
12
|
55-58
|
153
|
131
|
284 orang
|
14.4 %
|
|
13
|
>59
|
22
|
38
|
60 orang
|
3.0 %
|
|
Jumlah Total
|
980
|
987
|
1.967 orang
|
100,00%
|
Dari data di atas nampak bahwa penduduk usia produktif pada usia 20-49 tahun Desa Gempoltukmloko sekitar 784 atau hampir 45 %. Hal ini merupakan modal berharga bagi pengadaan tenaga produktif dan SDM.
Tingkat kemiskinan di Desa Gempoltukmloko termasuk tinggi. Dari jumlah 457 KK di atas, sejumlah 47 KK tercatat sebagai Pra Sejahtera; 236 KK tercatat Keluarga Sejahtera I; 54 KK tercatat Keluarga Sejahtera II; 113 KK tercatat Keluarga Sejahtera III; 10 KK sebagai sejahtera III plus. Jika KK golongan Pra-sejahtera dan KK golongan I digolongkan sebagai KK golongan miskin, maka lebih 50 % KK Desa Gempoltukmloko adalah keluarga miskin.
2.1.2.3 Pendidikan
Pendidikan adalah satu hal penting dalam memajukan tingkat SDM (Sumber Daya Manusia) yang dapat berpengaruh dalam jangka panjang pada peningkatan perekonomian. Dengan tingkat pendidikan yang tinggi maka akan mendongkrak tingkat kecakapan masyarakat yang pada gilirannya akan mendorong tumbuhnya ketrampilan kewirausahaan dan lapangan kerja baru, sehingga akan membantu program pemerintah dalam mengentaskan pengangguran dan kemiskinan. Prosentase tinggkat pendidikan Desa Gempoltukmloko dapat dilihat pada Tabel 2.
Tabel 2.
Tamatan Sekolah Masyarakat
|
No
|
Keterangan
|
Jumlah
|
Prosentase
|
|
1
|
Buta Huruf Usia 10 tahun ke atas |
47
|
3 %
|
|
2
|
Usia Pra-Sekolah |
35
|
2 %
|
|
3
|
Tidak Tamat SD |
104
|
5 %
|
|
4
|
Tamat Sekolah SD |
205
|
10 %
|
|
5
|
Tamat Sekolah SMP |
1.103
|
50 %
|
|
6
|
Tamat Sekolah SMA |
598
|
27 %
|
|
7
|
Tamat Sekolah PT/ Akademi |
67
|
3 %
|
| Jumlah Total |
2.159
|
100 %
|
Dari tabel di atas menunjukan bahwa mayoritas penduduk Desa Gempoltukmloko secara mayoritas hanya mampu menyelesaikan sekolah di jenjang pendidikan (SMP sampai SMA). Dalam hal kesediaan sumber daya manusia (SDM) yang memadahi dan mumpuni, keadaan ini merupakan tantangan tersendiri.
Minimnya penduduk Desa Gempoltukmloko yang bisa menyelesaikan pendidikan pada Perguruan Tinggi tidak lepas dari kondisi perekonomian masyarakat. Sarana pendidikan di Desa Gempoltukmloko boleh dibilang sangat lengkap, mulai dari tingkat pendidikan PAUD, TK/RA, MI/SD, MTs/SMP, SMA/MA/SMK semua fasilitas pendidikan itu semua tersentral di Desa Gempoltukmloko, sementara untuk pendidikan Perguruan Tinggi (PT) berada di tempat lain yang relatif jauh yaitu di Kota Lamongan.
Sebenarnya ada solusi yang bisa menjadi alternatif bagi persoalan rendahnya Sumber Daya Manusia (SDM) di Desa Gempoltukmloko yaitu melalui pelatihan dan kursus. Namun sarana atau lembaga ini ternyata juga belum tersedia dengan baik di Desa Gempoltukmloko Bahkan beberapa lembaga bimbingan belajar dan pelatihan yang pernah ada tidak bisa berkembang.
2.1.2.4 Kesehatan
Masalah pelayanan kesehatan adalah hak setiap warga masyarakat dan merupakan hal yang penting bagi peningkatan kualitas masyarakat ke depan. Masyarakat yang produktif harus didukung oleh kondisi kesehatan. Salah satu cara untuk mengukur tingkat kesehatan masyarakat dapat dilihat dari banyaknya masyarakat yang terserang penyakit.
Kondisi Kesehatan pada masyarakat Desa Gempoltukmloko tergolong sangat baik, hal ini lebih dikarenakan adanya Bidan Desa, Posyandu dan Polindes pada Desa Gempoltukmloko. Adapun masalah kesehatan yang biasa terjadi adalah penyakit-penyakit biasa seperti; Influensa, Batuk, Reumatik dan Pegel Linu, ini lebih diakibatkan karena perubahan iklim cuaca yang tidak menentu dan para petani yang biasa bekerja kasar disawah untuk bertani.
2.1.3 Keadaan Sosial
Dengan adanya perubahan dinamika politik dan sistem politik di Indonesia yang lebih demokratis, memberikan pengaruh kepada masyarakat untuk menerapkan suatu mekanisme politik yang dipandang lebih demokratis. Dalam konteks politik lokal Desa Gempoltukmloko, hal ini tergambar dalam pemilihan kepala desa dan pemilihan-pemilihan lain (pilleg, pilpres, pemillukada, dan pimilugub) yang juga melibatkan warga masyarakat desa secara umum.
Khusus untuk pemilihan kepala desa Gempoltukmloko sebagaimana tradisi kepala desa di Jawa, biasanya para peserta (kandidat) nya adalah mereka yang secara trah memiliki hubungan dengan elit kepala desa yang lama. Hal ini tidak terlepas dari anggapan masyarakat banyak di desa-desa bahwa jabatan kepala desa adalah jabatan garis tangan keluarga-keluarga tersebut.
Jabatan kepala desa merupakan jabatan yang tidak serta merta dapat diwariskan kepada anak cucu. Mereka dipilh karena kecerdasan, etos kerja, kejujuran dan kedekatannya dengan warga desa. Kepala desa bisa diganti sebelum masa jabatannya habis, jika ia melanggar peraturan maupun norma-norma yang berlaku. Begitu pula ia bisa diganti jika ia berhalangan tetap.
Karena demikian, maka setiap orang yang memiliki dan memenuhi syarat-syarat yang sudah ditentukan dalam perundangan dan peraturan yang berlaku, bisa mengajukan diri untuk mendaftar menjadi kandidat kepala desa. Pilihan kepala Desa bagi warga masyarakat Desa Gempoltukmloko seperti acara perayaan desa.
Pada bulan Juli 2010 masyarakat juga dilibatkan dalam pemilihan Bupati Lamongan secara langsung. Walaupun tingkat partisipasinya lebih rendah dari pada pilihan kepala Desa, namun hampir 85% daftar pemilih tetap, memberikan hak pilihnya. Ini adalah proggres demokrasi yang cukup signifikan di desa Gempoltukmloko.
Setelah proses-proses politik selesai, situasi desa kembali berjalan normal. Hiruk pikuk warga dalam pesta demokrasi desa berakhir dengan kembalinya kehidupan sebagaimana awal mulanya. Masyarakat tidak terus menerus terjebak dalam sekat-sekat kelompok pilihannya. Hal ini ditandai dengan kehidupan yang penuh tolong menolong maupun gotong royong.
Walaupun pola kepemimpinan ada di Kepala Desa namun mekanisme pengambilan keputusan selalu ada pelibatan masyarakat baik lewat lembaga resmi desa seperti Badan Permusyawaratan Desa (BPD) maupun lewat masyarakat langsung. Dengan demikian terlihat bahwa pola kepemimpinan di Wilayah Desa Gempoltukmloko mengedepankan pola kepemimpinan yang demokratis.
Berdasarkan deskripsi beberapa fakta di atas, dapat dipahami bahwa Desa Gempoltukmloko mempunyai dinamika politik lokal yang bagus. Hal ini terlihat baik dari segi pola kepemimpinan, mekanisme pemilihan kepemimpinan, sampai dengan partisipasi masyarakat dalam menerapkan sistem politik demokratis ke dalam kehidupan politik lokal. Tetapi terhadap minat politik daerah dan nasional terlihat masih kurang antusias. Hal ini dapat dimengerti dikarenakan dinamika politik nasional dalam kehidupan keseharian masyarakat Desa Gempoltukmloko kurang mempunyai greget, terutama yang berkaitan dengan permasalahan, kebutuhan dan kepentingan masyarakat secara langsung.
Budaya masyarakat Jawa sangat terasa di Desa Gempoltukmloko Dalam hal kegiatan agama Islam misalnya, suasananya sangat dipengaruhi oleh aspek budaya dan sosial Jawa. Hal ini tergambar dari dipakainya kalender Jawa/ Islam, masih adanya budaya nyadran, slametan, tahlilan, mithoni, dan lainnya, yang semuanya merefleksikan sisi-sisi akulturasi budaya Islam dan Jawa.
Dengan semakin terbukanya masyarakat terhadap arus informasi, hal-hal lama ini mulai mendapat respon dan tafsir balik dari masyarakat. Hal ini menandai babak baru dinamika sosial dan budaya, sekaligus tantangan baru bersama masyarakat Desa Gempoltukmloko Dalam rangka merespon tradisi lama ini telah mewabah dan menjamur kelembagaan sosial, politik, agama, dan budaya di Desa Gempoltukmloko Tentunya hal ini membutuhkan kearifan tersendiri, sebab walaupun secara budaya berlembaga dan berorganisasi adalah baik tetapi secara sosiologis ia akan beresiko menghadirkan kerawanan dan konflik sosial.
Dalam catatan sejarah, selama ini belum pernah terjadi bencana alam dan sosial yang cukup berarti di Desa Gempoltukmloko Isu-isu terkait tema ini, seperti kemiskinan dan bencana alam, tidak sampai pada titik kronis yang membahayakan masyarakat dan sosial.
2.1.4 Keadaan Ekonomi
Tingkat pendapatan rata-rata penduduk Desa Gempoltukmloko Rp. 300.000,- sampai 500.000,- per bulan Secara umum mata pencaharian warga masyarakat Desa Gempoltukmloko dapat teridentifikasi ke dalam beberapa sektor yaitu pertanian, jasa/perdagangan, industri dan lain-lain. Berdasarkan data yang ada, secara mayoritas penduduk masyarakat Desa Gempoltukmloko bermata Pencarian pada sector Pertanian. Lihat tabel berikut:
Tabel 6
Mata Pencarihan Masyarakat Desa Gempoltukmloko
|
No
|
Mata Pencaharian
|
Prosentase
|
|
|
1
|
Pertanian |
90 %
|
|
|
2
|
Jasa/ Perdagangan |
3 %
|
|
|
3
|
Sektor Industri |
2 %
|
|
|
4
|
Sektor lain |
1 %
|
|
|
Jumlah
|
100 %
|
|
2.2 Kondisi Pemerintahan Desa
2.2.1 Pembagian Wilayah Desa
Adapun Pembagian Wilayah dalam menyelenggarakan Pemerintahan Desa Gempoltukmloko terdiri dari 3 Dusun yaitu :
- Dusun Dampit
- Dusun Mloko
- Dusun Gempolpayung
Yang masing-masing dipimpin oleh seorang Kepala Dusun. Posisi Kasun menjadi sangat strategis seiring banyaknya limpahan tugas desa kepada aparat ini. Dalam rangka memaksimalkan fungsi pelayanan terhadap masyarakat di Desa Gempoltukmloko dari ke- 3 dusun tersebut terbagi menjadi 4 Rukun Warga (RW) dan 18 Rukun Tetangga (RT).